简体版 繁體版 English
Masuk Daftar

contoh kalimat belenggu

"belenggu" terjemahan bahasa Indonesia  "belenggu" terjemahan bahasa Inggris  
ContohHandphone
  • "Pemaknaan Belenggu dengan Teori dan Metode Semiotik" (PDF).
    "Pemaknaan Belenggu dengan Teori dan Metode Semiotik".
  • Belenggu was the only novel published by the magazine and the first Indonesian psychological novel.
    Belenggu adalah satu-satunya novel yang diterbitkan majalah sastra itu, dan merupakan novel psikologis Indonesia pertama.
  • Belenggu had its premiere at the Bucheon International Fantastic Film Festival where it was shown in competition on July 20, 2012.
    Belenggu ditayangkan perdana di Bucheon International Fantastic Film Festival2012, dan film ini ditayangkan dalam kompetisi pada 20 Juli 2012.
  • The Indonesian writer and literary critic Muhammad Balfas wrote in 1976 that Belenggu was "in every respect the best novel of pre-war Indonesian literature".
    Menurut penyair dan kritikus sastra Muhammad Balfas, yang menulis pada tahun 1976, Belenggu adalah "novel Indonesia terbaik dari sebelum perang kemerdekaan".
  • Eventually Belenggu was picked up by Poedjangga Baroe and published in a serial format in three editions between April and June 1940.
    Akhirnya novel ini diterbitkan oleh majalah Poedjangga Baroe, yang Armijn telah bantu mendirikan pada tahun 1933, dan diterbitkan dalam bentuk serial dari bulan April sampai Juni 1940.
  • According to Teeuw, the initial mixed reception was due in part to Indonesian readers – accustomed to idealised literature – being shocked by the realistic portrayals in Belenggu.
    Menurut Teeuw, resepsi ini dipengaruhi oleh sifat pembaca Indonesia, yang terbiasa membaca karya sastra yang diidealkan, menjadi syok atas kenyataan yang dicerminkan dalam Belenggu.
  • Teeuw notes that, unlike most Indonesian novels at the time, Belenggu did not feature a good and pure protagonist in a struggle against an evil antagonist, or present conflict and differences between generations.
    Menurut Teeuw, berbeda dari novel-novel Indonesia pada masa itu, Belenggu tidak menggunakan tema protagonis yang baik dan suci melawan antagonis yang jahat, atau konflik dan perbedaan antara generasi.
  • Balfas also notes stylistic similarities with older works, such as the death of the protagonist at the climax, and Sastrowardoyo opines that Belenggu had a more modern styling despite being published nine years earlier.
    Balfas mencatat bahwa ada kemiripan lain dengan karya sebelumnya, termasuk kematian protagonis di puncak cerita, sementara Sastrowardoyo berpendapat bahwa Belenggu malah lebih modern biarpun diterbitkan sembilan tahun sebelum Atheis.
  • Before the Japanese occupation of the Dutch East Indies had begun in 1942, Pane had made a name for himself in helping to establish the magazine Poedjangga Baroe in 1933 and with his novel Belenggu (Shackles; 1940).
    Sebelum pendudukan Jepang di Hindia Belanda dimulai tahun 194, Pane sudah duluan tenar melalui pendirian majalah Poedjangga Baroe tahun 1933 dan penerbitan novel Belenggu tahun 1940.
  • Maier notes that the novel features "odd but appropriate metaphors and similes" and stylistically resembles earlier works such as Abdul Muis' Salah Asuhan (Wrong Upbringing; 1928), Sutan Takdir Alisjahbana's Layar Terkembang (With Sails Unfurled; 1936), and Armijn Pane's Belenggu (Shackles; 1940).
    Maier menulis bahwa roman ini menggunakan "simile dan metafor yang aneh tetapi cocok", dengan gaya yang mirip karya-karya yang sudah ada seperti Salah Asuhan (1928) karya Abdul Muis, Layar Terkembang (1936) karya Sutan Takdir Alisjahbana, dan Belenggu (1940) karya Armijn Pane.