contoh kalimat bultmann
- Bultmann thought faith should become a present-day reality.
Bultmann menganggap iman harus menjadi suatu realitas masa kini. - The New Testament scholar Rudolf Bultmann, leading proponent of the demythologization of Christianity.
sarjana Perjanjian Baru Rudolf Bultmann, pendukung terkemuka dari demitologisasi Kristen. - Rudolf Bultmann pointed out that the sea-walking theme is familiar in many cultures.
Rudolf Bultmann melihat topik berjalan di atas air juga dikenal di beberapa budaya. - To Bultmann, the people of the world appeared to be always in disappointment and turmoil.
Bagi Bultmann, manusia di dunia tampaknya selalu berada di dalam kekecewaan dan kegalauan. - Other members of the movement included Rudolf Bultmann, Eduard Thurneysen, Emil Brunner, and Friedrich Gogarten.
Para anggota lain dari gerakan ini termasuk Rudolf Bultmann, Eduard Thurneysen, Emil Brunner, dan Friedrich Gogarten. - Bultmann remained convinced that the narratives of the life of Jesus offered theology in story form, teaching lessons in the familiar language of myth.
Bultmann tetap yakin bahwa kisah-kisah kehidupan Yesus menawarkan teologi dalam bentuk cerita. - Rudolf Bultmann used Kierkegaard's and Heidegger's philosophy of existence to demythologize Christianity by interpreting Christian mythical concepts into existentialist concepts.
Rudolf Bultmann menggunakan filsafat eksistensi Kierkegaard dan Heidegger untuk mendemitologisasi Kristenitas, dengan cara menginterpretasi konsep mitis Kristen menjadi konsep-konsep eksistensialis. - Some scholars, such as Craig L. Blomberg, criticized Bultmann and other critics for excessive skepticism regarding the historical reliability of the gospel narratives.
Sebagian sarjana mengkritik Bultmann dan para kritik lainnya karena skeptisisme yang berlebih-lebihan mengenai keandalan historis kisah-kisah Injil. - The full impact of Bultmann was felt with the English translation of many of his works, notably Kerygma and Mythos (1948).
Dampak penuh Bultmann baru dirasakan ketika bukunya Kerygma and Mythos ("Berita Injil dan Mitos") terbit dalam terjemahan bahasa Inggris pada 1948. - German theologian Rudolf Bultmann sees the phrase not as one genuinely used by Jesus but as one inserted by the early Church.
Teolog Jerman Rudolf Bultmann melihat frasa ini bukan sebagai suatu yang aslinya digunakan oleh Yesus tetapi menurutnya disisipkan oleh gereja awal. - Bultmann responds that modern scientific analysis of the text is required to separate the genuine from the miraculous claims, thereby revealing the true message.
Bultmann menjawab bahwa analisis ilmiah modern terhadap teks dibeutuhkan untuk memisahkan yang asli dari klaim-klaim yang ajaib, dan dengan demikian mengungkapkan pesannya yang sejati. - He obtained his PhD in New Testament at the University of Marburg in 1931, having written a dissertation on Pauline ecclesiology, with Rudolf Bultmann as his doctoral supervisor.
K?semann memperoleh gelar PhD dalam Perjanjian Baru di Universitas Marburg pada 1931, setelah menulis disertasi tentang eklesiologi Paulin, dengan Rudolf Bultmann sebagai pembimbing disertasinya. - In 1941 Bultmann applied form criticism to the Gospel of John, in which he distinguished the presence of a lost Signs Gospel on which John - alone of the evangelists - depended.
Pada 1941, Bultmann menerapkan kritik bentuk kepada Injil Yohanes, dan di situ ia membedakan keberadaan dari "Injil Tanda-tanda"] yang hilang, yang padanya Yohanes -- satu-satunya di antara para penulis Injil -- bergantung. - K?semann's lecture marked a departure from the teachings of his former professor Bultmann who emphasized theology and in 1926 had argued that historical Jesus research was both futile and unnecessary; although Bultmann slightly modified that position in a later book.
Kuliah K?semann menandai keberangkatan dari pengajaran bekas profesornya Bultmann yang menekankan teologi dan pada tahun 1926 telah berargumen bahwa riset Yesus historis adalah sia-sia dan tidak perlu; meskipun Bultmann agak merubah posisi itu dalam bukunya yang kemudian. - K?semann's lecture marked a departure from the teachings of his former professor Bultmann who emphasized theology and in 1926 had argued that historical Jesus research was both futile and unnecessary; although Bultmann slightly modified that position in a later book.
Kuliah K?semann menandai keberangkatan dari pengajaran bekas profesornya Bultmann yang menekankan teologi dan pada tahun 1926 telah berargumen bahwa riset Yesus historis adalah sia-sia dan tidak perlu; meskipun Bultmann agak merubah posisi itu dalam bukunya yang kemudian.